Jumat, 16 Agustus 2013

Usai

Malam ini aku terluka. -lagi
Damba yang kupuja hanya tinggal nama.
Penantian yang kujaga, nyatanya hanyalah hampa.
Aku tak akan menyalahkanmu.
Kata mereka, luka terjadi bukan karena cinta yang salah.
Ia nampak hanya karena aku terlalu berharap.
Mungkin aku yang salah. -maafkan ya.
Tapi salahkah mereka?

Yang menggantungkan harapan kepada manusia?
Kali ini tak bisa kutulis banyak.
Kubiarkan saja aksara mengurai selaksa luka yang menganga.
Aku Bukan Pilihan
tidak untuk berdiri di dua kaki
tiba di persimpangan
angin berhembus, menentukan arah
bukan untuk dibandingkan
walau ada hati yang kan terluka
tapi itu lebih baik
tiada perlu dirimu untuk resah
terduduk diam merenung
semua mungkin harus berakhir
aku 'kan pergi
melanjutkan langkah
kau tetaplah disana
menanti dia yang terbaik
pilihan hatimu yang telah lama dinanti
biduk ini 'kan kembali berlayar
"karena aku bukan pilihan..."

Andai Kau Tahu
Mengusir semesta lara dalam malam pekat. Membakar sisa rasa yang sekarat
Damba yang kupuja hanya tinggal nama. Rindu yang kujaga hanya semu belaka
Tak terlihat lagi manja sapa yang biasa
Melukisi hari dengan warna
Penuh suka cita
Sementara
Aku hanya tersudut di ujung luka
Memeluk sunyi



Selengkapnya

Cantik, Apa Kabar?

Hei cantik, apa kabar? Masihkah sendu melingkupi semestamu? Atau cerahnya hari telah mengusir segala mendung yang tega membuatmu kelabu? Aku baik. Senyumku masih terjaga apik, meski sendu sesekali datang mengusik.

Cantik. Ingatkah engkau pada akhir dari perbincangan kita kemarin? Kau bilang, engkau pergi agar aku bisa mendapat yang lebih baik darimu. It's so funny! Bagaimana mungkin aku mendapat yang lebih baik jika aku telah merasakan kesempurnaan? Aku memang tak sempurna adanya, begitu pula dengan kau. Tapi, kebersamaan kita adalah menyempurnakan. Aku bukan lagi menjadi aku. Kamu bukan lagi menjadi kamu. Aku dan kamu telah menjelma menjadi kita.

Ah, cantik. Namun itu dulu. Dulu sekali. (tapi bisa saja untuk saat nanti, -siapa yang tahu?). Benar kan? Sementara saat ini aku hanya mampu mengeja masa lalu. Mengingat saat dimana aku masih menatap matamu malu-malu. Lalu kemudian pipimu perlahan bersemu kemerahan. Ada rasa debar dan gejolak ingin memeluk disitu. Tapi, itu dosa - katamu.

Ya, aku dan kau terkukung dan terpasung dalam alasan batas. Untuk sesuatu yang indah saat tiba waktunya. -katanya. "Karena kita adalah ciptaan Tuhan, maka izinkan aku mencintaimu dengan caraNya. Jangan paksa aku. Perkenankan aku mencintaimu dalam diamku." Katamu, suatu waktu. Aku hanya tercekat. Tak tahu bagaimana menjawab. Aku merasa begitu lena dengan rasaku. Aku memang manusia biasa. Lemah, rapuh, terkadang patah, yang juga tak luput dari perasaan. Sementara aku masih tak mengerti bagaimana cara terbaik untuk menyikapi perasaanku.

Selain menikmati hari bersamamu. Dengan canda tawa, senyum dan air mata yang menjadi jembatannya. Lebih dari itu, aku tak tahu apa-apa. Mungkin kau benar adanya. Mencintai manusia berarti harus mencintai pula sang pencipta. Jika engkau saja telah kuanggap sempurna, maka bagaimana mungkin aku melupakan Dia yang Maha Sempurna? Tak akan kusia-siakan hidupku.

Terlebih membiarkan ragu membelenggu. (Mungkin jika Tuhan mengizinkanku untuk mengintip sedikit saja bagaimana sebenarnya rupa jodohku, saat ini aku tak akan meragu) Maka biarlah aku bersabar dalam diamku, karena aku akan mencoba percaya apa yang engkau percaya. Bahwa tulang rusuk tak akan pernah tertukar. Jika kita adalah memang sepasang nama yang tertulis dalam suratan takdirnya, maka kita bisa apa? Selain menjelma sebagai sepasang perindu yang menjalin tali cinta dalam kasihNya yang abadi. Beruntaikan tasbih-tasbih rindu untuk sebuah kain yang menjadi penutup dalam satu atap penuh berkah atas keridhaanNya. "Karena cinta adalah ketulusan, maka merelakan adalah jalan. Mencintai dengan cara dewasa tanpa rengekan." Semoga kau baik. Dari seseorang yang diamdiam mencintaimu dalamdalam

Selengkapnya

Surat Untuk Raja Siang

Matahari. Kuharap kau baik baik saja. Masih setia menerangi alam raya. Memberi pesona benderang bagi dunia. Saat aku menulis surat ini, kau sedang merona terang dengan cahaya kuning keemasan.

Kau tahu? Terkadang pesonamu yang terlampau sombong kau tunjukkan itu membuat bola mataku perih karena silau (Hehehe). Tapi, setelah kupikir mungkin kesombongan itu memang pantas kau tunjukkan. Karena memang hanya engkaulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling terang benderang. Hanya satu. Tak ada dua. Dalam lamunan terkadang aku berpikir, bagaimana rupa dunia bila kau tak ada. Gelap. Pekat. Lembap. Berlumut. Murung. Sunyi. Dingin. Baru sekedar memikirkannya saja aku sampai merinding. Mentari. Akhir-akhir ini banyak dari kaumku yang mencemoohmu. Menganggapmu tak berperasaan. Karena memberi panas yang begitu menyengat dan membakar badan. Bahkan, ada yang sampai gila mengumpatmu, melaknat dengan kalimat-kalimat kasar. Melampiaskan emosi yang selama ini membuat mereka gusar.

Ah. Sebenarnya siapakah yang tak berperasaan? Ketika banyak dari mereka yang seenaknya membakar hutan, memberangus habis pepohonan hanya sekedar untuk dijadikan berkubik-kubik bahan bangunan. Siapakah yang tak berperasaan? Ketika banyak dari mereka yang dengan gampang mengepulkan asap kendaraan, melempar dan membuang limbah sembarangan, menggusur lahan hijau untuk dijadikan pemukiman. Matahari. Aku muak. Aku kesal dengan sikap mereka dalam menghormati alam. Menganggap diri paling hebat dan kuat. Sehingga dengan jahat mereka memperkosa alam agar bermanfaat. Apa tak sedikitpun mereka sadar akan hal yang mereka perbuat? Bahwa dengan kekejian yang mereka lakukan membuat alam semakin berkarat.

Mentari. Aku tahu, mungkin kau merasakan kesumat yang sama sepertiku. Sehingga kau ingin mengingatkan mereka dengan memberi panas yang menyengat. Aku tak mau menyalahkan sikapmu. Karena bagiku, memang seperti itulah seharusnya kau bersikap. Karena sejatinya, kawan yang baik adalah mereka yang mau mengoreksi bukan mereka yang sering memuji. Begitu 'kan? Matahari. Kuharap kau tak terlampau marah sehingga sampai ingin membuat dunia semakin merah. Aku sangat mengharapkan kesabaranmu. Cukuplah engkau memberikan panas hanya sampai sebatas saat ini.

Kau tahu kenapa? Karena kini aku mulai gembira. Ada sebagian lagi dari mereka yang mulai menyadari kesalahannya. Mereka mulai mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam raya. Menanam kembali bibit pepohonan, menciptakan industri ramah lingkungan, menjaga kebersihan dan keindahan. Aku sangat mengharapkan kesabaranmu, mentari. Biarkan mereka memperbaiki alam kembali. Beri mereka waktu untuk mengembalikan senyummu lagi. Agar kau bisa menahan panasmu agar tak terlalu berapi. Raja siang. Maafkan sikap mereka yang garang. Kuharap kau mau kembali riang. Jaga pesonamu baik-baik. Tetaplah bersinar dengan cantik. Aku yang menanti senyummu kembali. Mas Aih

Selengkapnya

Jam Dinding

Tik. Tak. Tik. Tak. Malam memeluk hening. Sepi kesunyian memenuhi hampir seluruh kamar. Dinding-dinding kusam lapuk di makan usia. Lampu masih dinyalakan, hanya saja redup, tak cukup menerangi pandangan mata yang sudah kadung lelah oleh sebab terlalu lama terjaga. Di sudut kamar, bertumpuk abu dari tiga belas batang rokok yang kuisap sejak petang menyambut malam.

Ini malam keempat sejak keputusanmu untuk mengakhiri hubungan kita. “Kita sudah tak sejalan. Prinsipku tidak lagi sama denganmu. Maka lebih baik kita berpisah, agar tak ada lagi kita yang saling melukai antara satu dengan yang lainnya,” katamu dalam sebuah perbincangan singkat saat senja empat hari lalu.

Maka, beginilah aku sekarang. Duduk merokok mendekap lutut, sambil memperhatikan detak-detik waktu yang berpacu. Ditemani segelas kopi dan degup irama jantung yang tak lagi teratur. Tak ada air mata. Kehampaan jauh lebih terasa miris dibanding remang tangis. Bukan tak bersedih, aku hanya tak lagi tahu bagaimana caranya menyikapi kehilangan dengan senyuman. Sungguh menyakitkan bukan? Saat di mana hati dan perasaan begitu gagah untuk mempertahankan, sementara yang dicinta begitu gigih untuk melepaskan. Tik. Tak. Tik. Tak. Detak-detik masa semakin terasa menyebalkan. Dan aku. Kembali melarut bersama malam.


Selengkapnya

Kategori Utama