Jumat, 16 Agustus 2013

Surat Untuk Raja Siang

Matahari. Kuharap kau baik baik saja. Masih setia menerangi alam raya. Memberi pesona benderang bagi dunia. Saat aku menulis surat ini, kau sedang merona terang dengan cahaya kuning keemasan.

Kau tahu? Terkadang pesonamu yang terlampau sombong kau tunjukkan itu membuat bola mataku perih karena silau (Hehehe). Tapi, setelah kupikir mungkin kesombongan itu memang pantas kau tunjukkan. Karena memang hanya engkaulah satu-satunya ciptaan Tuhan yang paling terang benderang. Hanya satu. Tak ada dua. Dalam lamunan terkadang aku berpikir, bagaimana rupa dunia bila kau tak ada. Gelap. Pekat. Lembap. Berlumut. Murung. Sunyi. Dingin. Baru sekedar memikirkannya saja aku sampai merinding. Mentari. Akhir-akhir ini banyak dari kaumku yang mencemoohmu. Menganggapmu tak berperasaan. Karena memberi panas yang begitu menyengat dan membakar badan. Bahkan, ada yang sampai gila mengumpatmu, melaknat dengan kalimat-kalimat kasar. Melampiaskan emosi yang selama ini membuat mereka gusar.

Ah. Sebenarnya siapakah yang tak berperasaan? Ketika banyak dari mereka yang seenaknya membakar hutan, memberangus habis pepohonan hanya sekedar untuk dijadikan berkubik-kubik bahan bangunan. Siapakah yang tak berperasaan? Ketika banyak dari mereka yang dengan gampang mengepulkan asap kendaraan, melempar dan membuang limbah sembarangan, menggusur lahan hijau untuk dijadikan pemukiman. Matahari. Aku muak. Aku kesal dengan sikap mereka dalam menghormati alam. Menganggap diri paling hebat dan kuat. Sehingga dengan jahat mereka memperkosa alam agar bermanfaat. Apa tak sedikitpun mereka sadar akan hal yang mereka perbuat? Bahwa dengan kekejian yang mereka lakukan membuat alam semakin berkarat.

Mentari. Aku tahu, mungkin kau merasakan kesumat yang sama sepertiku. Sehingga kau ingin mengingatkan mereka dengan memberi panas yang menyengat. Aku tak mau menyalahkan sikapmu. Karena bagiku, memang seperti itulah seharusnya kau bersikap. Karena sejatinya, kawan yang baik adalah mereka yang mau mengoreksi bukan mereka yang sering memuji. Begitu 'kan? Matahari. Kuharap kau tak terlampau marah sehingga sampai ingin membuat dunia semakin merah. Aku sangat mengharapkan kesabaranmu. Cukuplah engkau memberikan panas hanya sampai sebatas saat ini.

Kau tahu kenapa? Karena kini aku mulai gembira. Ada sebagian lagi dari mereka yang mulai menyadari kesalahannya. Mereka mulai mengkampanyekan pentingnya menjaga kelestarian alam raya. Menanam kembali bibit pepohonan, menciptakan industri ramah lingkungan, menjaga kebersihan dan keindahan. Aku sangat mengharapkan kesabaranmu, mentari. Biarkan mereka memperbaiki alam kembali. Beri mereka waktu untuk mengembalikan senyummu lagi. Agar kau bisa menahan panasmu agar tak terlalu berapi. Raja siang. Maafkan sikap mereka yang garang. Kuharap kau mau kembali riang. Jaga pesonamu baik-baik. Tetaplah bersinar dengan cantik. Aku yang menanti senyummu kembali. Mas Aih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kategori Utama