Cantik. Ingatkah engkau pada akhir dari perbincangan kita kemarin? Kau bilang, engkau pergi agar aku bisa mendapat yang lebih baik darimu. It's so funny! Bagaimana mungkin aku mendapat yang lebih baik jika aku telah merasakan kesempurnaan? Aku memang tak sempurna adanya, begitu pula dengan kau. Tapi, kebersamaan kita adalah menyempurnakan. Aku bukan lagi menjadi aku. Kamu bukan lagi menjadi kamu. Aku dan kamu telah menjelma menjadi kita.
Ah, cantik. Namun itu dulu. Dulu sekali. (tapi bisa saja untuk saat nanti, -siapa yang tahu?). Benar kan? Sementara saat ini aku hanya mampu mengeja masa lalu. Mengingat saat dimana aku masih menatap matamu malu-malu. Lalu kemudian pipimu perlahan bersemu kemerahan. Ada rasa debar dan gejolak ingin memeluk disitu. Tapi, itu dosa - katamu.
Ya, aku dan kau terkukung dan terpasung dalam alasan batas. Untuk sesuatu yang indah saat tiba waktunya. -katanya. "Karena kita adalah ciptaan Tuhan, maka izinkan aku mencintaimu dengan caraNya. Jangan paksa aku. Perkenankan aku mencintaimu dalam diamku." Katamu, suatu waktu. Aku hanya tercekat. Tak tahu bagaimana menjawab. Aku merasa begitu lena dengan rasaku. Aku memang manusia biasa. Lemah, rapuh, terkadang patah, yang juga tak luput dari perasaan. Sementara aku masih tak mengerti bagaimana cara terbaik untuk menyikapi perasaanku.
Selain menikmati hari bersamamu. Dengan canda tawa, senyum dan air mata yang menjadi jembatannya. Lebih dari itu, aku tak tahu apa-apa. Mungkin kau benar adanya. Mencintai manusia berarti harus mencintai pula sang pencipta. Jika engkau saja telah kuanggap sempurna, maka bagaimana mungkin aku melupakan Dia yang Maha Sempurna? Tak akan kusia-siakan hidupku.
Terlebih membiarkan ragu membelenggu. (Mungkin jika Tuhan mengizinkanku untuk mengintip sedikit saja bagaimana sebenarnya rupa jodohku, saat ini aku tak akan meragu) Maka biarlah aku bersabar dalam diamku, karena aku akan mencoba percaya apa yang engkau percaya. Bahwa tulang rusuk tak akan pernah tertukar. Jika kita adalah memang sepasang nama yang tertulis dalam suratan takdirnya, maka kita bisa apa? Selain menjelma sebagai sepasang perindu yang menjalin tali cinta dalam kasihNya yang abadi. Beruntaikan tasbih-tasbih rindu untuk sebuah kain yang menjadi penutup dalam satu atap penuh berkah atas keridhaanNya. "Karena cinta adalah ketulusan, maka merelakan adalah jalan. Mencintai dengan cara dewasa tanpa rengekan." Semoga kau baik. Dari seseorang yang diamdiam mencintaimu dalamdalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar